Usai Stock split, Ini Harga Wajar Saham Bank Mandiri (BMRI)

Gedung Bank Mandiri

  • Aksi stock split BMRI berpotensi meningkatkan likuiditas perdagangan saham dan ramah investor ritel.
  • Pecah saham ala Bank Mandiri ditopang pula oleh fundamental yang solid.
  • Pasca stock split, harga saham BMRI masih tergolong murah dan menawarkan peluang keuntungan bagi investor.

Emiten bank BUMN PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) akan resmi melakukan pemecahan nilai nominal (stock split) saham dengan rasio 1:2 pada Selasa (4/4/2023). Dengan fundamental yang solid, valuasi saham BMRI masih terbilang murah saat ini.

Menurut keterbukaan informasi, sebelum stock split, nilai nominal saham BMRI adalah Rp250 per saham dengan jumlah saham sebesar 46.666.666.666 saham.

Nantinya, setelah pemecahan saham, nilai nominal saham BMRI adalah Rp125 per saham dengan jumlah saham sebesar 93.333.333.332 saham.

Sementara itu, untuk saham Seri A Dwiwarna akan tetap dipertahankan satu saham dan sisanya akan diperhitungkan menambah saham Seri B milik Negara Republik Indonesia.

Manajemen menjelaskan, aksi korporasi ini dilakukan dengan memperhatikan harga pasar saham BMRI di Bursa Efek Indonesia yang dipengaruhi adanya perbedaan nilai nominal dengan perusahaan dengan kegiatan usaha yang sejenis.

Dalam keterbukaan informasi (6/2/2023), perusahaan memaparkan dua tujuan yang melatarbelakangi pelaksanaan stock split.

“Pertama, peningkatan likuiditas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, dengan meningkatkan jumlah unit saham yang beredar. Kedua, perluasan distribusi kepemilikan saham melalui penyesuaian harga saham sehingga mencapai trading range yang optimal untuk menjangkau berbagai lapisan investor,” tulis manajemen Bank Mandiri dalam keterbukaan informasi.

Soal jadwal, akhir perdagangan dengan nilai nominal lama di pasar reguler dan pasar negosiasi pada Senin ini (3/4/2023).

Kemudian, awal perdagangan saham dengan nilai nominal baru di pasar reguler dan negosiasi pada Selasa (4/4/2023).

Apabila menggunakan asumsi harga penutupan Jumat (31/3/2023), di harga lama Rp10.325/saham, saham BMRI akan diperdagangkan di harga baru pasca-stock split Rp5.150/saham (pembulatan ke bawah). Namun, tentu saja, hal tersebut akan bergantung pada harga penutupan di pasar reguler pada 3 April 2023).

Sebagai informasi, Bank Mandiri sebelumnya pernah melakukan stock split dengan rasio yang juga 1:2 pada 2017 lalu.

Membedah Jeroan BMRI

Bank Mandiri sendiri berhasil mencetak kinerja yang mentereng sepanjang 2022. Resep racikan manajemen, termasuk optimalisasi digitalisasi, berhasil membuat efisiensi meningkat dan memperkokoh permodalan bank.

Laba bersih Bank Mandiri mencapai Rp 41,2 triliun sepanjang 2022. Angka tersebut meningkat 46,9% secara tahunan (YoY) dibandingkan 2021 yang sebesar Rp28,02 triliun.

Peningkatan laba bersih yang signifikan tersebut berkat tumbuhnya pendapatan bunga & syariah bersih hingga dua digit, yakni sebesar 20,31% YoY menjadi Rp87,90 triliun pada 2022.

Marjin bunga bersih (net interest margin/NIM) Bank Mandiri pun tumbuh dari 4,73% pada 2021 menjadi 5,16% pada 2022. NIM Bank Mandiri di atas rerata industri perbankan RI yang sebesar 4,8o% per Desember 2022.

Kenaikan NIM tak lepas dari Bank Mandiri yang sukses meningkatkan yield serta menurunkan biaya dana (cost of fund/CoF).

Per akhir Desember 2022, Cost of Fund sebesar 1,47% dan peningkatan Non-Loan Asset Yield menjadi 4,74%.

Metrik profitabilitas yang disukai investor, imbal hasil ekuitas (return on equity/ROE) dan imbal hasil aset (return on assets/ROA) Bank Mandiri juga tak kalah ciamik, masing-masing sebesar 22,62% (naik dari 16,24% pada 2021), dan 3,30% (naik 2,53% YoY).

Profitabilitas yang tumbuh signifikan tersebut juga tak lepas dari fungsi intermediasi Bank Mandiri yang semakin positif di tengah iklim ekonomi Tanah Air yang baik.
Sepanjang 2022, kredit secara konsolidasian emiten bank dengan kode saham BMRI tersebut mampu tumbuh positif sebesar 14,48% YoY menjadi Rp 1.202,2 triliun.
Perolehan kredit Bank Mandiri pada 2022 melampaui pertumbuhan kredit industri sebesar 11,35% pada periode yang sama.

Keseriusan Bank Mandiri dalam melakukan transformasi digital terlihat dari pertumbuhan signifikan transaksi digital bank tersebut melalui aplikasi Livin’ dan Kopra by Mandiri.

Livin’ by Mandiri telah diunduh lebih dari 22 juta kali dalam kurun waktu 15 bulan terakhir. Sedangkan, pengguna Kopra by Mandiri, yang kini juga telah hadir dalam versi mobile app, juga meningkat hampir empat kali lipat dalam satu tahun terakhir menjadi 83 ribu pengguna.

Selama 2022, Livin’ by Mandiri telah melayani lebih dari 1,64 miliar transaksi finansial, dengan nilai transaksi yang menembus Rp 2.435 triliun atau tumbuh 48,4% YoY.

Sedangkan, Wholesale Digital Super Platform Kopra by Mandiri, berhasil mengelola Rp 18.567 triliun transaksi hingga akhir tahun 2022 atau tumbuh 22% YoY.

Livin’ dan Kopra by Mandiri pada gilirannya ikut menyumbang pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) dan rasio dana murah (CASA) Bank Mandiri.

Total dana pihak ketiga (DPK) tumbuh positif 15,46% YoY dari Rp 1.291,2 triliun di akhir 2021 menjadi Rp 1.490,8 triliun di akhir 2022, yang ditopang oleh peningkatan dana giro serta tabungan yang masing-masing naik 31,2% dan 13,5% secara YoY.

Rasio CASA Bank Mandiri secara bank only di akhir 2022 pun ikut tumbuh, mencapai 77,64%, naik 365 bps YoY, sekaligus melampaui rata-rata industri perbankan.Dominasi dana murah tersebut menunjukkan likuiditas Bank Mandiri semakin baik dan pada akhirnya menekan cost of fund bank.

Dengan menunggangi gelombang digitalisasi saat ini, via Livin’ dan Kopra by Mandiri, Bank Mandiri sendiri mampu meraup peningkatan pendapatan berbasis komisi atau fee-based income (FBI).Hingga akhir Desember 2022, pendapatan non bunga Bank Mandiri secara bank only berhasil menembus Rp 27 triliun. Dari angka itu, FBI Livin’ dan Kopra by Mandiri masing-masing menyumbang pertumbuhan sebesar 13,11% YoY dan 10% YoY.

Selain meningkatkan DPK dan rasio CASA, digitalisasi juga membuat bisnis Bank Mandiri lebih efisien. Rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) Bank Mandiri (bank only) turun hampir 10% menjadi 57,35% per akhir 2022, di bawah rata-rata industri perbankan RI.

Seiring kinerja bisnis yang moncer, manajemen juga tetap menjaga kualitas aset bank.

Per akhir 2022, rasio non performing loan (NPL) Bank Mandiri secara bank only berhasil menurun sebesar 93 basis poin (bps) secara YoY ke level 1,88%.Bank Mandiri juga tetap melakukan antisipasi potensi penurunan kualitas aset dengan menjaga pembentukan pencadangan yang optimal.

Oleh karena itu, kendati NPL menurun, Bank Mandiri tetap melakukan peningkatan rasio pencadangan (NPL coverage) ratio mencapai sebesar 311% pada tahun lalu.Dampak dari perbaikan pada kualitas aset tersebut pada akhirnya ikut mendorong efisiensi biaya pencadangan sehingga cost of credit (CoC) membaik dari 1,91% ke level 1,21%. Ini menjadi level terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Sementara, di tengah pencapaian kredit yang positif, total aset Bank Mandiri secara konsolidasi berhasil mencapai Rp1.992,6 triliun atau tumbuh 15,5% YoY. Total aset tersebut juga menjadi rekor terbesar sepanjang sejarah Bank Mandiri.

Valuasi Murah, Potensi ‘Cuan’ Terbuka

Untuk melihat nilai wajar BMRI, diterapkan model valuasi Two-Stage Dividend Discount Model (DDM) dengan menggunakan asumsi pertumbuhan laba bersih secara compounding sampai 2027 sebesar 10,47%, dengan asumsi dividend payout ratio 60% hingga tahun 2026 dan 70% di tahun 2027.

Lebih lanjut, dengan asumsi cost of equity (CoE) di fase pertumbuhan tinggi 8,78% dan CoE di fase pertumbuhan stabil sebesar 9,7% dan terminal growth mengikuti prospek pertumbuhan ekonomi nasional 5%, maka menurut perhitungan Tim Riset CNBC Indonesia nilai wajar saham BMRI pasca-stock split ada di angka Rp 5.800/unit.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*