Menginjakkan Kaki di ‘Pulau Harta Karun’ yang Dijaga Buaya

Pulau Obi, Maluku Utara. (CNBC Indonesia/Suhendra)

Deru mesin diesel kapal motor tiba-tiba melambat sayup-sayup, membuat saya mendadak terbangun dari peraduan. Di benak sempat menduga-duga ada masalah gangguan mesin kapal di tengah perairan Halmahera Selatan, Maluku Utara, Jumat (7/4/2023) yang gelombang lautnya cukup sering mengguncang kapal motor malam itu.

Ternyata dugaan saya meleset, pengemudi kapal sengaja mulai melambatkan kapal. Di kejauhan sudah tampak kelap kelip lampu seperti sebuah kota besar di tepi pulau yang menerangi pekatnya malam. Waktu di ponsel menunjukkan pukul 23.06 WIT, tepat kurang lebih 3 jam perjalanan semenjak kapal motor beranjak meninggalkan dermaga di Kota Labuha, Ibu Kota Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Saya tak pernah membayangkan, Pulau Obi atau Obira yang bila diamati dari Google Maps saat masih di Jakarta, hanyalah bentangan pulau hijau royo yang sunyi, tapi malam itu ekspektasi lagi-lagi meleset.

Ya, Pulau Obi kini seolah tak pernah tidur, aktivitas penambangan dan terutama smelter atau pabrik pemurnian nikel di kawasan itu telah menyulap kawasan pulau tetap ‘hidup’ meski di malam hari.

Kapal yang membawa rombongan media di Jakarta itu pun bersandar, kaki saya pun untuk kali pertama menginjak pulau tambang bijih nikel ini. Banyak pekerja tambang di bawah PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dan para perusahaan afiliasinya menyapa kami dengan ramah, mengucapkan selamat datang di Pulau Obi, yang diguyur hujan lumayan deras dan angin kencang malam itu. Mereka menuntun rombongan masuk ke mobil yang sudah disiapkan.

Lokasi yang kami tuju adalah Living Quarter, pusat mess para pekerja tambang di Pulau Obi. Sepanjang perjalanan, yang tampak terlihat gemerlap lampu dari pergerakan kendaraan truk-truk tambang yang wara wiri malam hari, yang melintasi jalan becek dari tanah merah. Lampu-lampu pada bangunan tinggi pembangkit listrik PLTU hingga pabrik smelter semakin menambah denyut kehidupan Pulau Obi yang terang benderang, seolah lupa bahwa saya sedang berada lokasi ini kawasan terpencil di Indonesia Timur.

Selain truk-truk dan bus-bus berjejer sepanjang perjalanan, di lokasi jetty banyak kapal-kapal tampak merapat, dan tak sengaja ada pemandangan yang tak biasa. Di pinggir pantai banyak dijumpai papan peringatan bertuliskan bahasa Indonesia, dan aksara China dengan gambar binatang buas buaya. Ada peringatan waspada dari keberadaan buaya di pesisir pantai.

Ini menandakan binatang buas air laut itu masih bisa hidup berdampingan dengan para pekerja di habitat aslinya, walau aktivitas Pulau Obi yang kini makin sibuk semenjak penambangan bijih nikel dimulai di pulau ini sejak 2010 silam oleh NCKL di bawah naungan usaha Harita Group.

Lalu disusul dengan keberhasilan produksi perdana smelter yang memproduksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sebagai produk antara hasil pengolahan nikel limonit pada 2021, dan produksi perdana smelter saprolit pada tahun lalu. Hasil olahan bijih nikel ini menjadi komoditas ekspor.

Nikel kini kian seksi semenjak pemerintah gencar menggaungkan program hilirisasi untuk industri mendukung baterai listrik, dan nikel ini menjadi mineral yang harganya bernilai ekonomi tinggi menjadi ‘harta karun’ berharga bagi Indonesia. Nikel tak hanya sebagai bahan baku baterai, tapi dipakai untuk industri stainless steel, bahan campuran baja, dan lainnya.

Goldman Sachs memperkirakan rata-rata harga nikel dunia pada 2023 sebesar US$18.500 per ton. Bank Dunia dalam laporannya memperkirakan rata-rata harga nikel dunia pada 2023 sebesar US$21.000 per ton.

Perjalanan Panjang

Sebagai pulau yang punya nilai strategis, pulau ini sudah menjadi kawasan industri dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) berdasarkan Peraturan Presiden No. 109 tahun 2020 yang ditekan Presiden Jokowi. Namun, untuk menjangkau pulau ini tidak mudah dan membutuhkan waktu tempuh perjalanan yang panjang.

Setidaknya butuh dua kali penerbangan dan satu kali transportasi kapal laut untuk menjangkau Pulau Obi. Penerbangan pertama ditempuh dari Jakarta-Manado selama kurang lebih 3 jam dengan pesawat bermesin jet. Dari Manado dilanjutkan dengan penerbangan pesawat baling-baling ke Ternate kurang lebih 1 jam, lalu dilanjutkan penerbangan dari Ternate ke Labuha, ibu kota Halmahera Selatan selama 1 jam.

Dari Labuha dilanjutkan dengan perjalanan kapal motor kurang lebih 3 jam. Namun, total waktu yang diperlukan untuk menjangkau pulau ini dari Jakarta kurang lebih 24 jam, karena proses transit pesawat yang banyak memakan waktu menunggu, konsekuensi penerbangan berjadwal yang masih terbatas ke kawasan Halmahera, Maluku Utara.

Nantikan kisah soal Pulau Obi dan kawasan industri nikel selanjutnya di CNBC Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*