Ini Gejala Investor Bakal Rugi Ratusan Persen, Anda Termasuk?

Karyawan melintas di samping layar elektronik yang menunjukkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (11/10/2022). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Kejadian aneh tapi nyata, para investor saham benci tapi cinta dengan yang namanya rugi. Tidak mau rugi tapi tidak mau juga cut loss jadinya bukan untung yang menggulung tapi buntung.

Banyak investor tidak sudi cut loss dengan harapan saham yang telah rugi akan bangkit dan menuai keajaiban sehingga membalikkan rugi. Akhirnya mereka tenggelam dalam kerugian yang parah dan hanya membuat modal tergerus.

Efek terburuknya impian finansial mereka dalam jangka panjang seperti pensiun, pendidikan anak, atau membeli aset menguap begitu saja.

Nah. Maka dari itu, Anda harus mengenali dahulu gejala sindrom anti cut loss agar tidak terjebak dalam kerugian besar.

1. Saham Akan Selalu Bangkit!

Banyak saham yang mengalami penurunan signifikan namun bisa bangkit kembali. Akan tetapi tidak semua saham demikian.

Saham-saham yang bangkit lagi dari kejatuhan drastis adalah mereka yang memiliki fundamental yang kuat, baik itu dari keuangan maupun manajemen dan juga prospek bisnis dan industri yang masih baik.

Misalnya saja banyak saham yang jatuh pada Covid-19 kemarin. Namun ada emiten yang bangkit seperti di sektor perbankan karena perusahaan tersebut masih sehat dan potensi sektor masih baik di depan.

Berbeda dengan emiten sektor rokok yang cenderung turun karena kehilangan pelanggan saat terjadi Covid-19 ditambah dengan kebijakan cukai tinggi.

2. Bersikap Denial Terhadap Kerugian

Betul selama saham yang jatuh belum dijual tidak ada rugi materiil secara nyata pada investor. Tap ini salah!

Di bawah ilusi palsu bahwa tidak rugi sampai saham terjual, banyak investor memilih untuk terus memegang posisi rugi. Dengan melakukan itu, mereka menghindari penyesalan atas pilihan yang buruk.

Setelah saham mengalami kerugian, banyak investor memilih menahannya hingga kembali ke harga beli atau harga impas.

Sayangnya, banyak dari saham yang sama ini akan terus merosot dan akhirnya para investor terjebak dalam ilusi palsu dan kerugian mendalam.

3. Mengabaikan Tanpa Solusi

Saat suatu saham memberikan keuntungan akan “disayang-sayang” dan dibanggakan oleh investor. Mereka menunjukkan minat yang besar dalam mengelola investasi mereka dan memanen hasil kerja mereka.

Namun, ketika saham mereka stabil atau nilainya turun, terutama untuk periode jangka panjang, banyak investor kehilangan minat.

Akibatnya, portofolio saham yang terpelihara dengan baik ini mulai menunjukkan tanda-tanda terbengkalai. Daripada menyingkirkan yang rugi, banyak investor tidak melakukan apa-apa.

4. Harapan Palsu 

Investor akan tetap mempertahankan saham mereka yang merugi terlepas dari berita buruk yang terus berlanjut. Investor mengambil keputusan hanya berdasarkan harapan samar bahwa saham mereka setidaknya akan kembali ke harga beli.

Keputusan tersebut diambil berdasarkan faktor emosional, tanpa dipikirkan dengan matang , dan, sayangnya, keinginan dan harapan saham akan naik tidak membuat hal itu terjadi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*