Fenomena Buang Dolar Merebak, Ekonomi AS Terancam ‘Kiamat’?

Petugas menhitung uang asing di penukaran uang DolarAsia, Blok M, Jakarta, Senin, (26/9/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Amerika Serikat (AS) tengah menghadapi ancaman, karena status ‘king’ yang menempel pada dolar AS tergusur karena mata uang lain.

Dolar AS mulai menjadi ‘penguasa’ dunia sejak 1920-an dengan menggeser poundsterling Inggris. Status ‘king dolar’ semakin dikuatkan oleh Bretton Woods system atau sistem Bretton Woods.

Sistem yang dibentuk pada tahun 1944 merupakan langkah AS dalam menciptakan tatanan sistem moneter baru di mana emas tidak lagi bisa menjadi nilai tukar tunggal.

Pada saat itu, 1 gram emas ditautkan kepada US$ 35. Sistem tersebut ditandatangani oleh 44 negara pada 1944. Sistem tersebut runtuh pada 1971 karena banyak pihak yang meyakini cadangan emas bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) tidak cukup untuk menjamin transaksi dolar.

Kendati sistem Bretton Woods runtuh, dolar AS tetap menjadi mata uang cadangan yang digunakan oleh negara-negara lain meskipun tidak lagi menjadi mata uang standar yang dipatok terhadap emas.

Dolar AS tetap menjadi penguasa karena paling banyak digunakan dalam perdagangan global, status AS sebagai negara dengan size ekonomi terbesar kedua, status AS sebagai pusat pasar keuangan dunia, serta super powernya AS dalam percaturan geopolitik dunia.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, status “king dollar” menghadapi tantangan berat. Banyak negara yang memilih meninggalkan dolar karena alasan stabilitas ekonomi.

Posisi dolar AS sebagai ‘penguasa global’ jelas akan banyak menguntungkan Negara Paman Sam. Sebaliknya, AS akan menghadapi banyak persoalan jika dolar AS semakin banyak ditinggalkan. AS juga akan menghadapi persoalan besar jika mata uang Greenback melemah.

China merupakan negara yang paling aktif dalam upaya de-dolarisasi. Pesaing terbesar AS dalam bidang ekonomi tersebut telah melakukan berbagai kebijakan dan tindakan untuk meningkatkan penggunaan yuan sebagai mata uang internasional.

Negara seperti Argentina dan Brasil mencari opsi lain untuk mengurangi risiko fluktuasi nilai dolar dan meningkatkan kemandirian ekonomi mereka.

India juga semakin getol meninggalkan dolar dengan mengganti pembayaran ke mata uang lain seperti renminbi China atau menggunakan rupee untuk perdagangan internasional mereka.

Dengan memiliki “king dolar”, Amerika Serikat tentu saja memiliki banyak keuntungan. Di antaranya adalah pemerintah AS bisa menjual surat utang lebih dengan ongkos lebih murah mengingat banyak yang mencari aset berdenominasi dolar.

Dengan meningkatnya permintaan maka secara otomatis harga surat utang pemerintah AS (US Treasury) naik dan yield pun bisa lebih kecil. Sebagai catatan, outstanding utang pemerintah AS saat ini berkisar di US$ 31,5 triliun.

“Sangat sulit bersaing dengan dolar AS jika sebuah negara tidak memiliki pasar surat utang sebesar US treasury,” tutur Brad W. Setser, analis dari Council on Foreign Relation (CFR) dalam tulisannya The Dollar: The World’s Currency.

Jika dolar semakin ditinggalkan banyak negara, AS harus membayar lebih mahal dalam menerbitkan surat utang.

Pasalnya, aset denominasi dolar AS menjadi kurang menarik sehingga AS harus menawarkan yield yang lebih tinggi sehingga bunga utang yang harus dibayar lebih mahal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*