AS Gagal Bayar Utang Rp480.000 T, RI Patut Was-was Gak?

Perubahan APBN 2022, Subsidi & Bansos Naik, Target Utang Turun

Amerika Serikat (AS) tengah was-was, karena kemungkinan pemerintahnya mengalami gagal bayar utang (default). Lantas, seperti apa dampaknya untuk pasar keuangan di tanah air?

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Suminto mengungkapkan, isu pagu utang pemerintah di AS lebih merupakan bagaimana pemerintahnya membiayai fiskal mereka.

Terlebih, kata Suminto AS berkali-kali menghadapi masalah proses persetujuan pagu utang lewat kongres. Namun, pada akhirnya mereka mencapai kesepakatan, karena mereka berkepentingan untuk memastikan dapat terpenuhinya pembiayaan fiskal pemerintah, termasuk memenuhi debt services atau utang jatuh tempo.

Oleh karena itu, menurut Suminto permasalahan gagal bayar di AS tidak akan mempengaruhi pasar global, apalagi pasar keuangan tanah air.

“Isu pagu utang AS sejauh ini tidak mempengaruhi pasar keuangan AS, maupun pasar keuangan global. Sehingga tidak mempunyai dampak berarti terhadap pasar SBN Indonesia,” jelas Suminto kepada CNBC Indonesia, Kamis (27/4/2023).

Suminto mengungkapkan, kinerja pasar SBN Indonesia terbilang sangat baik. Pada penutupan perdagangan kemarin, Rabu (26/4/2023), yield SUN 10 tahun berada pada level 6,56%, sejak awal bulan April hingga saat ini (month to date) turun 24 basis poin (bps), dan sejak awal tahun 2023 (year to date), turun 38 bps.

“Kinerja pasar SBN yang baik ini selain didukung oleh likuiditas domestik yang ample juga didukung oleh capital inflows,” ujar Suminto.

“Kepemilikan asing (non resident) terhadap SBN kita naik Rp 61,46 triliun (ytd). Persepsi terhadap risiko kredit Indonesia juga membaik, ditandai oleh penurunan CDS (Credit Default Swap) . CDS 5 tahun turun 6,43 bps (mtd) dan 9,53 bps (ytd),” kata Suminto lagi.

Untuk diketahui, CDS adalah semacam premi risiko yang dikenakan saat penerbitan instrumen utang. Semakin tinggi CDS, pada dasarnya semakin besar kemungkinan untuk mengalami gagal bayar alias default. Kenaikan CDS mencerminkan ada kekhawatiran pasar terkait fundamental ekonomi sebuah negara atau kondisi fiskalnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Janet Yellen buka suara terkait kemungkinan terjadinya gagal bayar. Yellen sudah resah akan kemungkinan default sejak akhir tahun lalu, sebab Kongres AS belum menaikkan pagu utang pemerintah.

Yellen mengatakan itu adalah “tanggung jawab dasar” Kongres untuk meningkatkan atau menangguhkan batas pinjaman US$ 31,4 triliun.

Mantan ketua bank sentral AS (The Fed) ini bahkan memperingatkan default akan memicu “malapetaka ekonomi” yang akan membuat suku bunga lebih tinggi untuk tahun-tahun mendatang.

Utang Amerika Serikat menembus US$ 31 triliun atau sekitar Rp 460 ribu triliun (kurs Rp 14.900/US$) pada Oktober tahun lalu. Data dari Kementerian Keuangan menunjukkan per 31 Maret utang Amerika Serikat menembus US$ 31,45 triliun.

Dari tahun ke tahun, jumlah utang Negara Adikuasa memang terus meningkat, disebabkan defisit fiskal yang terus membengkak, dan semakin terakselerasi memasuki abad 21.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*