Amit-Amit Krisis AS Merembet ke RI, Siapin Ini dari Sekarang!

Police officers leave Silicon Valley Banks headquarters in Santa Clara, California on March 10, 2023. - US authorities swooped in and seized the assets of SVB, a key lender to US startups since the 1980s, after a run on deposits made it no longer tenable for the medium-sized bank to stay afloat on its own. (Photo by NOAH BERGER / AFP) (Photo by NOAH BERGER/AFP via Getty Images)

Runtuhnya Silicon Valley Bank (SVB) belum menyentuh perbankan Indonesia. Krisis sejauh ini baru berdampak negatif ke pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Namun, dampak krisis tidak boleh disepelekan. Presiden Joko Widodo bahkan sudah mewanti-wanti efek domino dari krisis SVB. Anda pun mesti mencermati segala kemungkinan risiko yang terjadi dan tentunya tetap berjaga-jaga dengan keuangan Anda.

Seperti diketahui, usai kabar mengenai SVB mencuat, yield atau imbal hasil surat berharga negara (SBN) menurun karena imbas kenaikan harga SBN. Fenomena ini menunjukkan bahwa investor kerap menjauh dari pasar saham.

Satu hal yang cukup mengerikan adalah ketika SVB bangkrut, dua hari kemudian Signature Bank yang juga ada di Amerika Serikat pun ikut bangkrut. Kehancuran dua bank besar di Negeri Paman Sam ini dikhawatirkan menimbulkan efek domino ke berbagai bank di negara lan.

Terkait isu panas ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan bahwa penutupan SVB di Amerika Serikat (AS) tidak akan berdampak langsung terhadap industri perbankan Indonesia. OJK juga menghimbau masyarakat agar tidak terpengaruh dengan spekulasi negatif yang berkembang di kalangan masyarakat.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, situasi ini masih bisa ditangani dengan baik dan jauh berbeda dari krisis yang terjadi tahun 2008.

Namun bagaimanakah cara untuk mengantisipasi keuangan pribadi Anda jika terjadi krisis serupa yang berdampak ke perekonomian negara? Berikut ulasan lengkapnya.

Tinjau rencana seluruh rencana keuangan jangka panjang

Segala tujuan atau rencana keuangan jangka menengah dan panjang sebaiknya ditinjau ulang. Untuk sementara waktu, prioritaskan diri Anda untuk menyediakan dana darurat guna mengantisipasi hal buruk yang bisa saja terjadi.

Tidak ada salahnya untuk menunda rencana liburan, dan memindahkan dana di tabungan yang sudah dialokasikan untuk liburan ke tabungan dana darurat.

Apabila jumlah dana darurat Anda masih kurang dari batas minimum, tidak ada salahnya untuk mencairkan beberapa instrumen investasi atau menjual aset-aset terdepresiasi Anda terlebih dulu.

Adapun jumlah dana darurat ideal bagi seorang karyawan adalah tiga kali pengeluaran bulanan bagi yang lajang, dan enam kali pengeluaran bulanan bagi yang sudah memiliki tanggungan.

Evaluasi pengeluaran bulanan & tambah pemasukan

Lakukan evaluasi terhadap pos-pos pengeluaran pribadi Anda sebaik mungkin. Kurangi saja pengeluaran-pengeluaran yang bersifat konsumtif dan kurang penting, agar dalam sebulan Anda bisa memiliki sisa uang yang lebih banyak untuk dialokasikan ke tabungan.

Untuk meningkatkan rasio menabung dalam sebulan, Anda bisa mencobanya dengan mencari sumber pendapatan tambahan baik yang bersumber dari hobi atau keahlian lain yang Anda miliki.

Tetap bayar iuran jaminan kesehatan

Jangan sampai Anda tidak memperdulikan yang satu ini, karena ketika iuran atau premi tidak terbayar, jaminan kesehatan Anda tidak akan bisa bekerja dalam memproteksi keuangan jika terjadi risiko sakit, dan Anda akan membayar biaya pengobatan dengan uang pribadi Anda.

Ketika uang pribadi dipakai untuk berobat, apalagi untuk rawat inap, maka tabungan Anda pun terkuras dalam jumlah besar.

Jaminan kesehatan paling standar yang bisa Anda miliki adalah BPJS Kesehatan, namun tak ada salahnya pula untuk memperluas jaminan kesehatan Anda ke asuransi swasta jika Anda memiliki dana yang cukup.

Tetap investasi tapi…

Apakah dengan adanya koreksi pasar saham, maka kita harus ikut menjauh layaknya investor lain? Belum tentu.

Koreksi bisa menjadi peluang besar untuk membeli saham di harga murah. Bila dana darurat Anda sudah cukup, maka Anda bisa memindahkan investasi saham Anda ke sektor-sektor saham yang terbilang defensif atau memiliki peluang tersendiri di masa sulit.

Bila Anda tertarik memindahkan investasi Anda ke aset yang rendah risiko, maka pastikan bahwasannya hal itu tidak dilakukan lantaran kepanikan semata.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*